Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Tahun 2022


 Kegiatan masyarakat telah normal kembali pada tahun ini yang erat kaitannya

dengan pengendalian pandemi COVID-19 yang kini terus membaik. Di mana

sebelumnya, Indonesia mengalami lonjakan kasus korona pada saat varian Delta

muncul di Indonesia pada pertengahan tahun 2021.

Namun kewaspadaan harus terus dijaga karena kasus COVID-19 global terbaru

ditengah musim dingin muncul varian baru yaitu Omicron. Program vaksinasi

akan terus dilaksanakan dan dipercepat sebagai salah satu bentuk upaya

pengendalian pandemi.

Josua memperkirakan, dari cerminan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) tahun

lalu, peningkatan IKK pada tahun 2022 tidak akan setinggi tahun lalu,

bersamaan dengan hambatan dari beberapa sisi.

Dari sisi eksternal, varian Omicron masih mengancam bagi pemulihan ekonomi

Indonesia. menurut Josua tingginya level penyebaran varian Omicron


berpotensi mendorong pemerintah untuk meningkatkan level PPKM, terutama

jika berlangsung peningkatan hospital occupancy rasio.

Lain hal, kerja keras APBN tetap berlanjut sampai dengan akhir November

2021, realisasi Belanja Negara mencapai Rp2.310,4 triliun (84,0) persen dari

pagu APBN 2021, tumbuh 0,1 persen (yoy).

Kinerja Belanja Negara konsisten membaik seiring dengan akselerasi atas

kebutuhan belanja pada periode sebelumnya. Kerja keras Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara (APBN) melalui belanja negara juga didukung penuh oleh

kinerja program penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi. Realisasi

Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) per 17 Desember 2021 mencapai jumlah

Rp533,60 triliun atau 71,6 persen dari pagu.

Bank Indonesia (BI) optimistis bahwa pemulihan ekonomi Indonesia akan pulih

pada tahun ini, dia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditahun 2022

ini akan berada sekitar 4,7 persen sampai dengan 5,5 persen. Bank Indonesia

sebagai otoritas moneter tanah air akan terus mendukung pemulihan ekonomi

dan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Pada negara-negara tetangga Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan

ekonomi Indonesia lebih tinggi dibandingkan Thailand yang diperkirakan hanya

tumbuh 3,9 persen pada 2022 dan 4,3 persen pada 2023, masih lebih rendah

dibandingkan Filipina yang mencapai 5,9 persen pada 2022.

Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Malaysia akan pulih

sekitar 5,8 persen pada 2022, sayangnya kemudian turun menjadi 4,5 persen

pada 2023 mendatang karena memudarnya dukungan dari ekspor dan

pengetatan kebijakan fiskal dan moneter.

Bank Dunia memperkirakan negara-negara yang bergantung pada pariwisata

diAsia Tenggara seperti negara Thailand, Filipina dan Malaysia tidak akan pulih

dalam waktu dekat hingga tahun 2023.

Di Indonesia sendiri Presiden Joko Widodo meminta sektor keuangan bersama

dengan sektor real mampu saling mendukung untuk menjaga pemulihan

ekonomi nasional. "Antara sektor jasa keuangan dengan sektor real harus saling

mendukung dan saling menguatkan di saat sulit seperti ini. Tanpa adanya sektor

jasa keuangan yang baik, perekonomian nasional tidak akan berjalan dengan

baik dan berkelanjutan," ucapnya dalam sambutan Pertemuan Tahunan Industri

Jasa Keuangan, pada Kamis (20/1/2022).

Menurut Presiden Joko Widodo, pandemi yang berkepanjangan ini telah

menimbulkan luka yang mendalam bagi sektor-sektor tertentu. Di saat itu juga,


telah berlangsung global supply chain disruption yang memicu meningkatnya

harga komoditas dunia dan menimbulkan inflasi global.

"Diperlukan strategi penanganan yang lebih spesifik, ini harus detail dan efektif,

serta penuh kehati-hatian agar tidak mengganggu jalannya pemulihan yang

sedang kita lakukan," kata Presiden Joko Widodo dalam sambutan Pertemuan

Tahunan Industri Jasa Keuangan, Kamis (20/1/2022).

Presiden Joko Widodo memaparkan dengan menelaah dinamika perekonomian

dan perkembangan penanganan COVID-19, rancangan kebijakan fiskal harus

antisipatif dan responsif, dengan tetap menjaga keseimbangan antara

kemampuan countercyclical dengan upaya pengendalian risiko agar fiskal

jangka panjang tetap dapat dijaga.

“Karena itu, konsolidasi dan reformasi fiskal harus terus dilakukan secara

menyeluruh, bertahap, terukur meliputi penguatan sisi penerimaan negara, dan

terukur meliputi penguatan sisi penerimaan negara, perbaikan sisi belanja serta

pengelolaan pembiayaan yang prudent dan hati-hati, untuk mewujudkan

pengelolaan fiskal yang lebih sehat, berdaya tahan, dan mampu menjaga

stabilitas perekonomian ke depan,” ucapnya.

Dari sisi fiskal, pemerintah akan terus mendukung pemulihan dengan outlook

penerimaan yang lebih baik ditahun ini. Karena itu, defisit yang lebih kecil

disebut akan bisa tercapai sehingga memudahkan proses menuju normalisasi

defisit APBN di bawah 3 persen pada tahun 2023 mendatang.

Komentar